“Bismillahirrahmanirrahim”
Kaki kanannya pun melangkah masuk ke dalam mobil yang masih berpenumang tiga orang, dengan kata lain masih bisa dengan leluasa memilih akan duduk dimana untuk 1 jam kedepan.
Akhirnya dia memilih pojokan di bangku yang lebih panjang, di ujung bangku panjang masih di deretan yang sama, tampak seorang wanita yang sedang menempelkan telepon genggamnya ke telinganya sampai tidak lama kemudian ia turun dengan telepon genggam yang masih terus menempel dan berganti dengan penumpang-penumpang lain sampai dirasa mobil itu penuh sesak. Diantara penumpang-penumpang itu tampak sepasang kakek dan nenek yang ternyata saling kenal dengan wanita berbaju biru di depannya yang belakangan diketahui mereka bertetangga. Tampak juga tiga orang remaja putri yang ketika masuk telah membuat suasana menjadi ramai dengan percakapan mereka yang terkadang diselingi tawa keras mereka. Seorang lelaki berkemeja putih dan celana bahan berwarna hitam tampak asik dengan buku bacaannya, tak ketinggalan tepat disebelahnya seorang wanita berbaju abu-abu dan berkerudung dengan warna senada yang selalu menyunggingkan senyum tipisnya juga asik membaca (sepertinya) jurnal ilmiah.
Lagi-lagi satu per satu turun, tapi kali ini tidak ada pergantian penumpang sehingga suasana di mobil itu cukup lengang. Tidak lama kemudian seorang gadis remaja berkaos putih dengan menenteng cardigan merah di tangan kiri dan telepon genggam di tangan kanan naik dan tampak cukup gelisah.
Di lampu merah, pengamen tidak mau ketinggalan mengambil peran dengan bermodalkan gitar dan harmonika mendendangkan lagu iwan fals, tapi ntah apa yang ada dipikiran para penumpang itu, tidak terkesan dengan penampilannya atau alasan klise lain (tidak ada uang kecil), tak satu tangan pun yang mengisi gelas plastik bekas air mineral yang diikatkan pengamen itu di ujung gitarnya.
Mobil itu terus melaju sampai akhirnya
”Pinggir bang”
***
”Pinggir bang”
***


.jpg)


